Bacaan Sujud Subhaana Rabbiyal Ala Wabihamdih
Bacaan Sujud Subhaana Rabbiyal A’la Wabihamdih ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 19 Ramadhan 1447 H / 9 Maret 2026 M.
Kajian Tentang Bacaan Sujud Subhaana Rabbiyal A’la Wabihamdih
Kajian sebelumnya: Bacaan Sujud Subhaana Rabbiyal A’laa
Bacaan tersebut adalah:
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ
“Maha Suci Rabbku Yang Maha Tinggi dan segala puji bagi-Nya.” (HR. Abu Dawud)
Bacaan ini dianjurkan untuk dibaca sebanyak tiga kali, meskipun membacanya satu kali pun diperbolehkan. Dasar dari bacaan ini adalah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, yang menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membaca kalimat tersebut saat sujud sebanyak tiga kali.
Meskipun terdapat diskusi di kalangan ulama mengenai derajat kekuatannya seperti Imam Abu Dawud, Imam An-Nawawi, dan Al-Hafizh Ibnu Hajar yang mengisyaratkan adanya kelemahan dalam sanadnya ulama lain seperti Syaikh Al-Albani dan Syaikh Al-Arna’uth menilainya sebagai hadits yang kuat. Oleh karena itu, bacaan ini tetap dapat diamalkan dalam salat.
Pilihan untuk membaca Subhana rabbiyal a’la saja atau menambahkan wabihamdih bukanlah persoalan perbedaan organisasi atau golongan, melainkan pilihan berdasarkan riwayat hadits dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Meskipun riwayat tanpa tambahan wabihamdih secara sanad dinilai lebih kuat, penggunaan tambahan tersebut tetap memiliki landasan dalil yang jelas.
Makna Istimewa: Gabungan Tasbih dan Tahmid
Bacaan sujud ini dianggap istimewa karena menggabungkan dua jenis dzikir sekaligus, yaitu tasbih dan tahmid.
- Tasbih: Terkandung dalam kalimat Subhana rabbiyal a’la (Maha Suci Rabbku Yang Maha Tinggi). Mengucapkan tasbih berarti mensucikan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari segala bentuk kekurangan.
- Tahmid: Terkandung dalam kalimat Wabihamdih (dan dengan memuji-Nya). Mengucapkan tahmid berarti menetapkan segala sifat pujian hanya bagi Allah ‘Azza wa Jalla.
Perpaduan ini memberikan efek yang mendalam bagi hati seorang mukmin karena ia mengakui keagungan sekaligus kesempurnaan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala saat berada dalam posisi terendah (sujud).
Hakikat Tasbih: Mensucikan Allah Subhanahu wa Ta’ala
Mengucapkan tasbih berarti mensucikan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari tiga hal utama:
- Kekurangan: Allah Subhanahu wa Ta’ala suci dari sifat lemah. Dia adalah Dzat Yang Maha Kuat.
- Keburukan: Allah Subhanahu wa Ta’ala suci dari segala hal yang bersifat negatif atau buruk.
- Sifat yang tidak layak bagi-Nya: Allah Subhanahu wa Ta’ala suci dari sifat-sifat makhluk yang serba terbatas, seperti rasa kantuk, lelah, atau membutuhkan bantuan orang lain.
Sebagai contoh, Allah Subhanahu wa Ta’ala mustahil bersifat lalai atau lupa terhadap hamba-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا
“…dan Tuhanmu tidak sekali-kali lupa.” (QS. Maryam[19]: 64)
Segala sifat makhluk yang penuh keterbatasan tidak dimiliki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan memahami makna ini, seseorang yang bersujud akan merasakan ketenangan karena ia menggantungkan hidupnya kepada Zat yang tidak pernah tidur, tidak pernah lupa, dan tidak pernah melemah.
Kesempurnaan Ingatan Allah Subhanahu wa Ta’ala
Allah ‘Azza wa Jalla memiliki ingatan yang maha sempurna, berbeda dengan manusia yang sering kali didera sifat lupa. Bahkan, seseorang yang sangat mencintai sesamanya pun pasti pernah mengalami lupa. Lupa tidak hanya sekedar tidak mengingat nama atau identitas pasangan, tetapi juga mencakup kelalaian dalam mendoakan kebaikan bagi mereka.
Banyak di antara hamba Allah yang sering kali terlewat untuk memanjatkan doa agar dianugerahi keluarga yang shalih. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai doa ini:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan[25]: 74)
Manusia tidak boleh beranggapan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki keterbatasan seperti makhluk-Nya. Allah senantiasa mengingat hamba-Nya setiap detik. Bukti nyata bahwa Allah selalu mengingat kita adalah ketersediaan oksigen untuk bernapas dan aliran darah yang terus mengalir tanpa henti. Tidak ada satupun manusia, bahkan seorang pengasuh bayi profesional yang dibayar mahal, mampu mengawasi tugasnya selama 24 jam penuh tanpa jeda dalam setahun. Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah sekalipun melalaikan makhluk-Nya.
Meskipun manusia sering melupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dia tetap memberikan nafas, makanan, minuman, kesehatan, dan keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa Allah Maha Suci dari segala bentuk kekurangan, termasuk sifat lalai.
Allah Maha Suci dari Keburukan dan Kezaliman
Selain suci dari kekurangan, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga Maha Suci dari segala bentuk keburukan, salah satunya adalah perbuatan zalim. Kezaliman merupakan sifat buruk yang mustahil dilakukan oleh Allah ‘Azza wa Jalla.
Seberat apapun ujian yang dihadapi manusia di dunia, hal itu sama sekali tidak mencerminkan bahwa Allah sedang berbuat zalim. Tidak ada satupun musibah yang ditimpakan kepada hamba dengan maksud untuk menzaliminya. Jika terdapat musibah yang menimpa manusia, hal tersebut pada hakikatnya merupakan akibat dari perbuatan manusia itu sendiri. Musibah atau ujian berat yang dialami seringkali dipicu oleh dosa-dosa yang dikerjakan, baik yang disadari maupun tidak.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan peringatan tersebut agar manusia kembali mengingat-Nya. Hal ini merupakan bentuk kasih sayang Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana orang tua yang memperingatkan anaknya agar tidak terperosok ke dalam sumur, demikian pula Allah mengingatkan hamba-Nya yang sudah terlampau jauh meninggalkan aturan-Nya.
Sakit dan musibah yang membuat seorang hamba kembali beristighfar, mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, dan memperbaiki diri adalah bagian dari kebaikan Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan sebuah kezaliman.
Sifat yang Tidak Layak Bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala
Dalam memaknai tasbih, seorang mukmin harus meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Suci dari sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya. Sifat-sifat makhluk seperti makan, minum, tidur, dan mengantuk sangat tidak layak bagi keagungan Allah ‘Azza wa Jalla.
Jika manusia membutuhkan tidur untuk beristirahat, Allah Subhanahu wa Ta’ala mustahil mengalami hal tersebut. Hal ini dijelaskan dalam Ayat Kursi:
لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ
“Tidak mengantuk dan tidak tidur.” (QS. Al-Baqarah[2]: 255)
Sangat mustahil bagi Allah untuk mengantuk atau tidur. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala tidur, maka seluruh keteraturan alam semesta akan hancur; pernapasan manusia akan terhenti dan peredaran benda langit akan kacau. Kesempurnaan pengaturan alam semesta ini membuktikan bahwa Allah terjaga selamanya.
Makna Tahmid: Mengapa Memuji Allah?
Setelah memahami makna tasbih, terdapat makna tahmid yang terkandung dalam kalimat wabihamdih. Tahmid adalah ucapan segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Terdapat dua alasan utama mengapa manusia harus memuji Allah:
- Karena Kesempurnaan Sifat-Sifat Allah: Sesuatu yang sempurna sangat pantas untuk dipuji. Ketika manusia melihat keindahan ciptaan Allah, seperti bunga yang sangat indah, sepantasnya ia mengucapkan Masya Allah sebagai bentuk pengakuan atas keagungan Sang Pencipta.
- Karena Banyaknya Nikmat-Nya: Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan nikmat yang tidak terhitung jumlahnya kepada setiap hamba.
Memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala bukan sekadar ucapan lisan, melainkan bentuk pengakuan hati atas segala kesempurnaan dan kemurahan-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla adalah satu-satunya Zat yang berhak menerima segala pujian yang murni.
Membiasakan Kalimat Thayyibah dan Memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala
Setiap mukmin hendaknya membiasakan diri untuk mengucapkan kalimat yang baik saat melihat sesuatu yang indah, seperti Masya Allah tabarakallah atau Masya Allah la quwwata illa billah. Allah ‘Azza wa Jalla adalah Zat Yang Maha Indah dan Maha Sempurna dalam segala sifat-Nya. Kekuatan, keindahan, kasih sayang, kedermawanan, hingga kebaikan Allah Subhanahu wa Ta’ala semuanya bersifat sempurna. Oleh karena itu, sangatlah wajar bagi hamba-Nya untuk senantiasa mengucapkan Alhamdulillah.
Alasan utama untuk terus memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah karena limpahan nikmat-Nya yang sangat banyak, baik nikmat yang besar maupun kecil, yang terlihat maupun yang tersembunyi, serta nikmat di masa lalu, masa sekarang, hingga masa yang akan datang. Salah satu nikmat terbesar adalah hidayah, termasuk nikmat dipertemukan kembali dengan bulan Ramadan hingga memasuki sepuluh hari terakhir.
Keutamaan Sepuluh Hari Terakhir Ramadan dan Lailatul Qadar
Memasuki malam ke-21 Ramadan merupakan momentum bagi setiap muslim untuk berlomba-lomba mendapatkan Lailatul Qadar. Banyak ulama berpendapat bahwa Lailatul Qadar berpindah-pindah setiap tahunnya di dalam sepuluh malam terakhir, tidak selalu menetap pada tanggal tertentu seperti malam ke-27 saja. Malam mulia tersebut bisa saja terjadi pada malam ke-21 atau malam-malam ganjil lainnya.
Seseorang akan sangat menyesal jika melewatkan malam tersebut hanya karena berspekulasi pada satu malam saja. Misalnya, seseorang yang merasa telah mendapatkan Lailatul Qadar pada malam ke-21 lalu berhenti beribadah pada malam-malam berikutnya, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala bisa jadi menetapkan Lailatul Qadar pada malam ke-27 di tahun tersebut. Sangat merugikan jika pada malam mulia itu seseorang justru sibuk dengan hal yang sia-sia.
Kesempatan bertemu dengan sepuluh hari terakhir Ramadan harus dimaksimalkan karena waktu ini sangat singkat, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
أَيَّامًا مَّعْدُودَاتٍ
“(Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu.” (QS. Al-Baqarah[2]: 184)
Keutamaan Beribadah di Malam Lailatul Qadar
Hanya dalam waktu sepuluh hari, umat Islam berusaha mendapatkan sesuatu yang sangat istimewa. Beribadah pada satu malam Lailatul Qadar memiliki ganjaran yang lebih baik daripada beribadah selama seribu bulan.
Jika seribu bulan setara dengan kurang lebih 30.000 malam, maka satu malam yang diisi dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala pada waktu tersebut memiliki nilai yang luar biasa tinggi.
Jika menggunakan perhitungan bisnis, perbandingan nilai ibadah pada malam Lailatul Qadar sangatlah luar biasa. Seseorang yang memiliki modal satu juta rupiah kemudian mendapatkan keuntungan tiga ratus juta rupiah tentu akan merasa sangat beruntung. Sebaliknya, orang yang menyia-nyiakan peluang keuntungan sebesar tiga ratus kali lipat tersebut pasti akan merasakan penyesalan yang mendalam di kemudian hari.
Penyesalan selalu datang di akhir. Jika penyesalan itu terjadi di dunia, masih ada kesempatan untuk memperbaikinya. Namun, sangat memprihatinkan jika penyesalan tersebut baru muncul di hari kiamat saat melihat orang lain mendapatkan kemuliaan Lailatul Qadar, sementara diri sendiri tidak mendapatkan apa-apa. Sepuluh hari terakhir Ramadhan merupakan waktu yang sangat singkat, tetapi sayangnya banyak orang justru mulai bergeser dari masjid menuju pusat perbelanjaan. Mereka lebih memilih mengejar diskon di pasar atau swalayan daripada mengejar pahala dahsyat yang dibagikan Allah Subhanahu wa Ta’ala di masjid-masjid-Nya.
Keabadian Pahala Dibandingkan Keuntungan Dunia
Keistimewaan Lailatul Qadar jauh melampaui ilustrasi bisnis duniawi manapun. Sebesar apa pun keuntungan materi yang didapatkan manusia, semuanya pasti akan habis. Fenomena masyarakat yang mendapatkan uang ganti rugi pembebasan lahan untuk jalan tol menjadi bukti nyata. Meskipun mendapatkan miliaran rupiah dan membelanjakannya untuk mobil-mobil mewah, uang tersebut dapat habis hanya dalam hitungan bulan.
Berbeda dengan harta dunia, pahala ibadah seribu bulan tidak akan pernah habis. Kenikmatan tersebut akan terus dirasakan hingga seorang hamba dimasukkan ke dalam surga oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Rasa lelah dalam mengejar Lailatul Qadar selama sepuluh malam akan dibalas dengan kenikmatan yang kekal abadi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُوْلَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ جَزَاؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga Adn yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” (QS. Al-Bayyinah[98]: 7-8)
Kerugian Menyia-nyiakan Kesempatan
Sungguh sangat merugi orang yang telah diberikan umur oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menjumpai sepuluh hari terakhir Ramadan, namun menyia-nyiakannya dengan aktivitas yang tidak bermanfaat, seperti terlalu sibuk bermain ponsel.
Sangat disayangkan jika malam Lailatul Qadar yang mulia diisi dengan aktivitas yang sia-sia seperti menonton televisi, menyaksikan drama Korea, melakukan siaran langsung di media sosial, atau bermain game. Demikian pula bagi kaum laki-laki, tidak sepantasnya malam tersebut dihabiskan untuk menonton pertandingan sepak bola atau pergi memancing. Kesempatan ini merupakan nikmat besar yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak boleh disia-siakan.
Efek Spiritual Tasbih dan Tahmid
Aktivitas bertasbih dan bertahmid memiliki pengaruh yang mendalam bagi jiwa jika maknanya dipahami dengan benar. Saat seseorang bertasbih dan menyadari hakikatnya, akan muncul rasa tunduk dan takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kesadaran bahwa Allah memiliki kekuasaan dan kekuatan tanpa batas mendorong manusia untuk tidak melanggar aturan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat yang menguasai kehidupan serta alam semesta tanpa ada kekurangan sedikitpun. Dengan menyadari kesucian dan kesempurnaan sifat-sifat Allah, seorang hamba akan merasa takut untuk berbuat dosa atau meninggalkan perintah-Nya.
Adapun efek dari tahmid adalah tumbuhnya rasa cinta yang semakin besar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini didasari pada kesadaran bahwa segala nikmat yang dirasakan bersumber dari-Nya. Kesadaran bahwa mata diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala menuntut hamba untuk menggunakannya sesuai dengan keinginan-Nya. Begitu pula dengan lisan; karena Allah yang memberikan lisan tersebut, maka ia hanya boleh digunakan untuk hal-hal yang diridhai-Nya. Menggunjing atau berbohong bukanlah perbuatan yang diridai Allah, sehingga perbuatan tersebut harus ditinggalkan.
Telinga juga merupakan pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jangan biarkan hal-hal yang tidak diridhai-Nya masuk ke dalam pendengaran. Pada malam Lailatul Qadar, tidak sepatutnya seseorang mendengarkan musik. Sebaliknya, biarkan Al-Qur’an dan hal-hal yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memenuhi pendengaran.
Download mp3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Mari turut membagikan link download kajian “Bacaan Sujud Subhaana Rabbiyal A’la Wabihamdih” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56113-bacaan-sujud-subhaana-rabbiyal-ala-wabihamdih/